Pendapatan Cloud Computing di Indonesia Tumbuh 48% hingga 2014

| November 28, 2011 | 0 Comments

JAKARTA (IFT) - Pertumbuhan pendapatan rata-rata layanan cloud computing (komputasi awan) di Indonesia diperkirakan sebesar 48% per tahun hingga 2014. Segmen layanan infrastructure as a service atau data center akan tumbuh paling pesat di antara layanan komputasi awan lain dengan pertumbuhan 55,9%, demikian hasil riset lembaga Frost & Sullivan.

Komputasi awan adalah layanan teknologi informasi yang bisa dimanfaatkan atau diakses oleh pelanggannya melalui jaringan internet. Layanan ini terbagi dalam tiga jenis layanan, yaitu  software as a service (SaaS), platform as a service (PaaS), dan infrastructure as a service (IaaS). Dengan layanan komputasi awan, pengguna tidak perlu investasi di perangkat seperti server untuk mendukung bisnisnya.

Iwan Rachmat, Senior Consultant, ICT Practice, Frost & Sullivan Indonesia, mengatakan permintaan terhadap layanan data center akan tumbuh paling signifikan di Indonesia dengan estimasi 34% pada 2014 dibanding tahun lalu yang tumbuh 30%. Melalui layanan data center, pengguna tidak perlu melakukan investasi sendiri untuk membangun server atau data center untuk menjalankan aplikasi tertentu, seperti surat elektronik (e-mail).

“Saat ini permintaan layanan komputasi awan di Indonesia sedang meningkat, terutama dari perusahaan-perusahaan lokal, karena mereka mulai memahami ada kesempatan untuk mengurangi biaya operasional dan mendorong terciptanya efektivitas bisnis,” kata Iwan dalam keterangannya, Kamis.

Frost & Sullivan menyatakan pertumbuhan layanan komputasi awan di Indonesia akan disumbang oleh industri banking, financial services, and insurance (BFSI), manufaktur, serta industri teknologi informasi (IT), dan telekomunikasi. Saat ini industri-industri tersebut membutuhkan data center untuk menunjang perluasan bisnis mereka.

Menurut Iwan, pasar komputasi awan di Indonesia berada dalam kurva pertumbuhan. Artinya, semakin banyak perusahaan yang menjadikan layanan komputasi awan sebagai prioritas, asalkan para vendor komputasi awan terus-menerus melakukan edukasi pasar. Selain itu, masuknya vendor-vendor global penyedia layanan komputasi awan juga turut mendorong pertumbuhan layanan ini ke depan.

Teguh Prasetya, Direktur Utama PT Indonesian Cloud, vendor layanan komputasi awan, mengatakan saat ini pasar komputasi awan di Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Teguh melihat potensi pasar terhadap 52,2 juta perusahaan kelas menengah (small-medium-business) di Indonesia yang belum tersentuh oleh teknologi informasi (IT) secara konvensional sekalipun, padahal perusahaan-perusahaan kelas menengah tersebut mampu menyerap hingga 98,8 juta tenaga kerja.

Teguh memprediksi dalam satu hingga dua tahun ke depan, layanan komputasi awan di Indonesia bertumbuh pesat. Alasannya, Indonesia masih berada dalam tahap pengenalan pasar, sehingga belum banyak industri besar atau sektor pemerintah yang menggunakan layanan ini. Berdasarkan International Data Corporation (IDC), belanja IT di Indonesia diperkirakan tumbuh 25% pada tahun ini dengan nilai US$ 42,3 miliar.

“Kami menargetkan 150 ribu pengguna dari segmen individual business, small-medium-business, dan large enterprise hingga pertengahan 2012,” kata Teguh kepada IFT.

Teguh mengatakan saat ini adopsi komputasi awan di sektor industri besar cenderung lambat dibandingkan individu dan perusahaan kelas menengah. Alasannya, perusahaan besar memiliki ketakutan terhadap keamanan data perusahaan. Perusahaan besar cenderung mengadopsi private cloud, di mana perusahaan membeli server sendiri untuk menyelenggarakan cloud computing secara internal.

Namun, dalam satu-dua tahun ke depan, kata Teguh, perusahaan besar akan sadar dengan kenyamanan layanan cloud secara utuh, karena mereka tidak lagi harus berinvestasi di perangkat server.

Kendala Komputasi Awan

Frost & Sullivan berpendapat layanan komputasi awan masih rendah digunakan di sektor pemerintahan dibandingkan sektor publik di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Lembaga ini mencatat ada tiga kendala layanan komputasi awan rendah digunakan di Indonesia.

Pertama, vendor layanan komputasi awan belum massif melakukan edukasi pasar. Kedua, adanya sikap skeptis perusahaan dan pemerintah mengenai keamanan (security) dan privasi data. Ketiga, rendahnya konektivitas internet broadband di Indonesia akibat kurangnya infrastruktur broadband.

Sementara Teguh berpendapat kendala utama layanan komputasi awan di Indonesia adalah keamanan, performa, dan ketersediaan (availability). Masalah keamanan data pengguna sebenarnya bisa diselesaikan, apabila pengguna melakukan penambahan lapisan keamanan di dalam jaringannya. Untuk masalah performa layanan, perusahaan tidak perlu khawatir, sebab perusahaan tidak perlu menambah server jika jaringannya penuh. Dengan layanan komputasi awan, pengguna bisa mencari server lain yang masih idle untuk meningkatkan kinerjanya.

“Untuk masalah ketersediaan, saat ini banyak perusahaan penyedia layanan komputasi awan di Indonesia. Layanan tersebut tidak mudah hilang seperti layanan pembuatan situs atau website yang bisa tutup sewaktu-waktu, sebab investasi di layanan ini mahal hingga jutaan dolar Amerika Serikat,” ujar Teguh.

sumber : http://www.indonesiafinancetoday.com/read/16131/Pendapatan-Cloud-Computing-di-Indonesia-Tumbuh-48-hingga-2014

Tags: ,

Category: Cloud Business, Cloud in Indonesia

Leave a Reply