LEGO Business Model
LEGO Business Pattern
History:
Siapa yang tidak kenal LEGO? Semua orang dari anak kecil sampai dewasa pasti mengenal mainan yang bisa dibongkar pasang ini. LEGO berawal dari ide seorang tukang kayu bernama Ole Kirk Christensen. Dia mendapatkan ide ini saat usaha furniture kayunya mengalami kebangkrutan. Pada masa ini, dia melihat peluang untuk berpindah haluan dari membuat furniture kayu ke membuat mainan yang bisa di bongkar pasang. Kata LEGO sendiri berasal dari kata leg godt yang berarti play well.
LEGO Business Pattern:
Business pattern yang di gunakan oleh LEGO adalah Long tail pattern. Pattern ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dan berpegang teguh pada pernyataan selling less of more. Maksud dari pernyataan ini adalah, sebuah bisnis yang menjual barang yang unique dengan jumlah kuantitas kecil bisa menghasilkan aggregate revenue yang sama dengan sebuah bisnis yang memfokuskan untuk menjual barang barang yang “hit” dalam jumlah besar.
Long Tail pattern dapat melakukan itu karena murahnya inventory dan kuatnya platform yang akan digunakan. Menurut Anderson, hal ini bisa terjadi karena ada 3 factor yang menarik trigger-nya, dan 3 faktor tersebut adalah:
- Democratization of Tools: Murahnya harga teknologi pada era ini menyebabkan tools yang tadinya mahal dan hanya bisa dipakai oleh corporate menjadi terbuka untuk kalangan amatir/non-professional. Dengan ini, mereka bisa menciptakan suatu inovasi ataupun karya amatiran dengan hasil professional.
- Democratization of Distribution: Pada era globalisasi ini, penggunaan internet bisa dibilang sangat mengagumkan. Seseorang tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk mendistribusikan barang / karya – karyanya. Contohnya, seorang musisi sekarang dapat menjual musiknya tanpa harus mengeluarkan biaya untuk membuat CD, karena dia sudah dapat mendistribusikan dan menjual karyanya lewat internet. Dengan ini pula, terbukalah pasar baru untuk menjual niche product.
- Falling search costs to connect supply with demands. Tantangan dalam menjual product niche adalah mencari potential buyers. Namun, dengan berkembangnya search engines, user ratings dan communities of interest telah memudahkan sebuah usaha untuk menjual niche product-nya.
Nah, yang dilakukan LEGO dalam long tail patternnya adalah meciptakan suatu software yang dinamakan LEGO Factory. LEGO Factory adalah sebuah software dimana customer dapat men-design LEGO nya sendiri dan hasil karyanya dapat dipesan juga olehnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk customer lain, untuk membeli karyanya tersebut. Jadi, LEGO telah menerapkan Long tailnya dengan menjual product yang ‘unique’ dan juga telah mengubah sebagian sistemnya dari menjual factory locked products menjadi user-generated product. Dengan adanya LEGO Factory, bisa dibilang juga bahwa LEGO memanfaatkan dua business pattern sekaligus. Selain long tail, LEGO juga memanfaatkan Multi-Sided Platform pattern, karena melalui LEGO Factory Catalogue, LEGO telah mempertemukan si ‘designer’ dengan si ‘Buyer’. Sekian yang bisa saya sampaikan tentang LEGO dan LEGO Factory nya. Untuk lebih jelasnya tentang bagaimana LEGO Factory bekerja(business side) tidak ada salahnya untuk membaca 9 Business blocks dari LEGO Factory di bawah ini:
Saya harap tulisan ini dapat bermanfaat. Terima Kasih.
Related Posts
Category: Cloud Business







